Sebuah jebakan sangat berbahaya memberi kemakmuran palsu dengan biaya hutang luar negeri. Hasilnya hanya masuk tempat sampah saja; tidak ada yang terwariskan bagi generasi berikut.

Ia dan kelompoknya akan mencuri secara hebat; ketika rakyat sedang lengah menikmati kemakmuran “semu”; atas biaya hutang luar negeri yang penggunaannya untuk konsumsi; dan bukan untuk membangun pendidikan dan infrastruktur.

Apa mau bangsa kita seperti itu?

Kita ingin pemimpin yang memberdayakan bangsa agar kita bisa bekerja dan lebih produktif.


Program Populis; Sebuah Jebakan Sangat Berbahaya

Sebuah Jebakan Sangat Berbahaya

(Politik dan Ekonomi)
(Erizeli Jely Bandaro -> Diskusi Dengan Babo)

Indonesia akan masuk masa putaran kampanye. Kamu ingat kan, Hugo Chavez? Tubuhnya tambur, Ia mantan para militer. Ambisi kekuasaannya sangat besar. Pada waktu masih aktif sebagai militer ia pernah mencoba melakukan kudeta tapi gagal. Pemerintah mengampuninya. Apakah ia kapok? Tidak. Hasrat berkuasa tak surut. Ia pun bergabung dengan partai sosialis dan akhirnya memimpin partai tersebut. Upaya militer untuk berkuasa ia hapus dari rencana. Selanjutnya ia rebut kekuasaan melalui jalur demokrasi langsung.

Hugo memang petualang sejati yang bisa membungkus diri menjadi malaikat demi merebut simpati rakyat miskin. Maklum, ia paham betul sumber daya MIGAS Venezuela terbesar di dunia. Selama ini penikmatnya oleh elite politik yang pro AS. Ketika berkampanye ia menuduh penguasa yang ada sekarang telah gagal memenuhi janjinya. Harga melambung tinggi. Pengangguran meningkat. Subsidi terpotong. Orang miskin semakin banyak. Negara tergadaikan kepada asing. Hutang bertumpuk. TKA merampas angkatan kerja lokal. Ia komunikator ulung yang mampu menciptakan magic word merasuk ke otak rakyat yang sebesar kacang itu. Rakyat larut dengan mimpi hidup makmur dari segala kemudahan dari calon pemimpinnya.

Lantas apa yang ia janjikan?

Ia tidak berbicara tentang perlunya menjadikan SDA sebagai pemicu untuk pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Bahwa kalau ia berkuasa SDA yang ada akan berguna untuk mendistribusikan keadilan ekonomi dan sosial. Upah buruh maupun PNS naik berlipat. Pengadaan rumah dengan DP dan angsuran subdisi negara. Harga kebutuhan hari-hari semua tersubsidi dan terjamin murah. Semua kebutuhan sosial terjamin negara. Yang nganggur bergaji.

Ketika lawan politiknya menyerangnya dengan menuduhnya membawa program populis; ia menjawab dengan santai; “itulah contoh penguasa yang tidak punya keberpihakan kepada rakyat miskin”. Sebagian besar rakyat yang memang miskin, memang tidak paham seharusnya mesin ekonomi bekerja untuk kemandirian. Tentu sangat percaya dengan janji populis itu. Sudah dapat mudah tebak hasilnya. Hugo dapat menang mudah.

Selama menjabat lebih dari 14 tahun, ia selalu membakar emosi rakyat tentang kesalahan presiden sebelumnya. Sementara program real menciptakan kemandirian rakyat untuk berproduksi tidak nampak. Bahkan ia terus meracuni rakyat dengan subsidi besar besaran. Bukan itu saja, ia pun memotong jam kerja agar rakyat punya waktu melakukan kegiatan kesenian dan beribadah di gereja. Gerakan Gereja yang menentang kebijakannya semakin kehilangan pamor di hadapan rakyat. Rakyat menjadikan gereja tempat dansa ala sosialis.

Di Caracas tidak ada hari tanpa pesta dan kebaktian keagamaan.

Kekuasaannya semakin kokoh dan ia pun meminta parlemen menghapus pembatasan masa jabatan presiden. Sehinga ia bisa seumur hidup berkuasa.

Teman saya di China yang punya bisnis di Venezuela mengatakan bahwa kesalahan terbesar dari Hugo adalah tidak menggunakan keuntungan MIGAS untuk memperluas industri hilir. Lebih konyol lagi, ia memaksa BUMN untuk membayar tunai semua bagi hasil dari minyak mentah. Sehingga tidak ada lagi uang untuk pengadaan tekhnologi dan peningkatan produksi. Dengan uang tunai itulah ia bagikan kepada rakyat lewat program populis. Tapi karena sebagian besar kebutuhan rakya berasal dari impor dan pengadaanya pengelolaan negara; maka bisnis rente di semua sektor meluas. Pemerintah membayar 90% dari harga rente itu.

Jadi daya korupsinya lebih dahsyat berbanding waktu presiden sebelumnya masih sistem kapitalis.

Karena program populis itu memang angka kemisikinan turun tapi tidak berdampak kepada pertumbuhan real untuk jangka panjang. Dampak buruk dari program populis itu adalah rakyat lemah bersaing dan manja. Seakan pesta akan terus berlansung tanpa jeda. Selagi MIGAS masih ada maka selama itu rakyat menikmatinya. Namun apa yang terjadi kemudian? ketika harga minyak dunia mulai anjlok pada 2010, reaksi berantai terjadi di Venezuela. Pemerintah tak sanggup lagi mengimpor bahan pokok dan memberikan subsidi. Akibatnya kelangkaan terjadi di berbagai tempat. Rakyat pun kelaparan. Tahun 2013, Hugo meninggal karena kanker.

Penerus Chavez, adalah Nicolas Maduro yang harus menanggung tugas berat membereskan masalah ini. Tapi lagi-lagi warisan Chavez menjadi penghalang. Kali ini bukan warisan kebijakan; melainkan ideologi yang terlanjur meracuni rakyat jadi rakus dan malas. Ia tahu cara harus berbuat agar keluar dari masalah tapi ia tidak bisa mengubah ideologi yang sudah terlanjur merasuk rakyat. Maklum Maduro adalah murid Chavez yang pernah jadi wakil presiden pada periode akhir pemerintahan Chavez.

Banyak negara ingin membantu Venezuela tapi Maduro menolak.

Karena ketetapan syarat, dia harus menghentikan program populis itu; dan memastikan APBN kredible untuk menjamin pertumbuhan berkelanjutan. Pihak negara asing jadi alasan atas kegagalan dia mengatasi ekonomi. Ia menuduh negara-negara yang tidak suka pada Venezuela sengaja memantik perang ekonomi. Rakyat bisa menerima alasan itu. Tapi ketika tidak ada lagi uang untuk membayar program populis itu, rakyat pun marah. Karena tidak ada barang tersedia di pasar. Mata uang terjun bebas, harga melambung tak terbilang. Kejahatan terjadi di semua tempat. Orang jadi ganas. Angka kemiskin meningkat pesat, bahkan lebih miskin dari sebelum HUGO jadi presiden. Orang menjual anak gadisnya demi sepiring spaghetti. Uang tidak ada nilainya lagi. Karena barang tidak tersedia di pasar.

Kini baru rakyat tahu, – Sebuah Jebakan Sangat Berbahaya,

bahwa yang mereka terima selama ini bukan hanya berasal dari MIGAS; tapi juga hutang luar negeri. Semua yang terjadi pada venezuela pernah terjadi di Indonesia; di era Soeharto dan SBY. Tapi untunglah Jokowi yang terpilih sebagai pengganti sehingga tahu akar masalah bangsa. Bahwa ini adalah soal mental. Baik pemimpin maupun rakyat terjebak dengan mental too good to be true. Mempertahankan kekuasaan lewat subsidi tanpa kerja keras. Itulah yang akan jadi tawaran oleh pasangan PS -Sandi dalam kampanye lalu.

Kita sebagai rakyat yang cerdas harus berhati-hati dengan calon pemimpin yang populis. Karena ia lebih jahat dari pada kapitalis dan lebih buruk dari komunis. Lihatlah contoh di Jakarta. Pemimpin oportunis adalah dajjal yang sengaja lahir untuk merusak peradaban. Mereka adalah musuh orang beragama dan bermoral. Mengapa? Mereka menciptakan paradox. Karena mereka meracuni orang miskin dan bodoh untuk menyembah mereka dengan janji populis dan kemudahan, tapi sebetulnya merampok lebih banyak dibandingkan kaum kapitalis maupun komunis. Sebuah Jebakan Sangat Berbahaya

Program Populis; Sebuah Jebakan Sangat Berbahaya

ERA DIGITAL
INVESTASI TAK TERBATAS RUANG & WAKTU


Rumah tinggal keluarga adalah kebutuhan dasar manusia. Utamanya bagi Pekerja Migran Indonesia, Klub Cahaya melayani kebutuhan dengan kerja sama saling menguntungkan. Selengkapnya klik ke Klub Cahaya atau Real Estate. Atau ke Beranda.

Kesempatan Emas – Miliki aset properti dengan murah, mudah dan cepat..!!!
Harga tanah dan rumah naik terus, tak pernah turun..
Kami menawarkan 2 cara pembelian : 1. Beli tanah dulu, bangun rumah nanti. 2. Beli rumah langsung, sudah termasuk tanah.

Hubungi kami untuk mendapat penawaran dan negosiasi terbaik..
Pembayaran setelah lengkap dokumen Notaris..

Perumahan Cahaya Caruban – Kendal
PT. Cemerlang Cahaya Internasional
Kontak HP/WA :
+62 838 61122815
https://klubcahaya.com
Kategori: Goresan

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: